loading...

Minggu, 12 Juli 2020

tommy tak warisi gaya kepemimpinan presiden soeharto | Makassar Info Berita Terbaru


Jakarta - Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin menilai Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto tidak mewarisi gaya kepemimpinan sang ayah, yakni mantan Presiden Soeharto.

Dia mengatakan Ketua Umum Partai Berkarya itu memiliki perbedaan yang sangat jauh dalam hal memimpin organisasi.

Bedanya Soeharto itu pemimpin yang sudah lama berkuasa, jadi tahu apa yang harus dilakukannya. Sedangkan Tommy baru memimpin partai. Dan itu pun partainya tak lolos Senayan

"Beda Soeharto. Beda Tommy. Kalau Soeharto pernah pimpin negara Tommy belum pernah. Kalau Soeharto bisa pegang Partai Golkar yang besar. Kalau Tommy hanya pegang Partai Berkarya," katanya saat dihubungi Tagar, Minggu, 12 Juli 2020.

"Bedanya Soeharto itu pemimpin yang sudah lama berkuasa, jadi tahu apa yang harus dilakukannya. Sedangkan Tommy baru memimpin partai. Dan itu pun partainya tak lolos Senayan," ucapnya menambahkan.

Ujang berpendapat, masyarakat dapat memberikan penilaian tersendiri terkait kehidupan berdemokrasi di masa kepemimpinan Soeharto.

"Belum bisa disamakan gayanya. Makanya beda. Apakah kepemimpinannya demokratis atau tidak itu rakyat yang bisa menilai. Jauh bedanya 90:10. Yang satu sudah teruji. Yang satu lagi belum," ujarnya.

Munaslub Partai Berkarya

Menurut Ujang, musyawarah nasional luar biasa (Munaslub) yang dilakukan Presidium Penyelamat Partai Berkarya tidak mendapat restu dari Ketua Umum Tommy Soeharto.

Dia beranggapan, Munaslub Partai Berkarya yang digelar di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu, 11 Juli 2020, bertujuan untuk menggeser Tommy Soeharto dari posisinya sebagai Ketua Umum. Ujang mengaku tidak heran lagi dengan dualisme yang terdapat di tubuh internal partai.

"Bisa juga Munaslub itu untuk mendongkel kepemimpinan Tommy di Partai Berkarya, dan Munaslub bisa saja karena kepemimpinan Tommy di Partai Berkarya tak terlalu akomodatif terhadap kelompok lain di internal partai. Biasanya di partai itu ada faksi-faksi. Dan bisa saja faksi yang tak suka kepada Tommy yang menggelar Munaslub," kata dia.

Ujang berpendapat, keinginan untuk mendompleng kekuasaan Tommy Soeharto, karena ada pihak-pihak yang tak kunjung mendapat peran penting di tubuh partai berlogo pohon beringin tersebut.

"Bisa jadi karena mereka kecewa terhadap Tommy. Mungkin karena kelompok tersebut tak mendapat tempat atau peran di Partai Berkarya di bawah pimpinan Tommy," ucapnya.

Dia menegaskan, jika pembubaran Munaslub tidak ada dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Berkarya, maka langkah yang dilakukan Tommy Soeharto tidak dapat dibenarkan.

"Intinya lihat aturan AD/ART Partai Berkarya. Namun, jika memberhentikan kader yang menentangnya tidak berdasarkan aturan partai, maka tak dibenarkan," ujarnya.

Menurutnya, soal pecat-memecat di internal Partai Berkarya merupakan hak Tommy Soeharto dan pengurus Partai Berkarya.

"Jika pemecatannya sesuai prosedur. Itu artinya Tommy Soeharto tak mewarisi gaya kepemimpinan ayahnya. Namun, jika pemecatannya tak sesuai ketentuan partai, mungkin saja ada gaya kemiripan di antara keduanya," kata Ujang Komarudin. []

Baca juga: Tommy Soeharto Bubarkan Munaslub Berkarya Kubu Badar

Baca juga: Tommy Soeharto Bubarkan Munaslub Ilegal Partai Berkarya

Berita terkait



Sumber : Tagar.id

LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Adbox
loading...