loading...

Sabtu, 04 Juli 2020

sawah di subang hasilkan 6,3 ton beras per hektare | Makassar Info Berita Terbaru


Subang - Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Subang, Jawa Barat, Ir  Djadja Rohadamadja, bersyukur Kabupaten Subang berada di peringkat ketiga tertinggi se-Indonesia sebagai daerah penghasil beras. Meski di tengah pandemi Covid-19, Dinas Pertanian dituntut untuk lebih giat lagi meningkatkan produksi pertanian.

Potensi luas sawah di Kabupaten Subang 84.570 hektare merupakan terluas ketiga se-Jawa Barat setelah Indramayu dan Karawang. Panen padi berdasarkan data statistik tahun 2019, sawah seluas 156.298,5 hektare adapun produksi padi 942.932 Ton gabah kering giling. Kalau dikonversi ke beras 540.960 ton beras.

Dari produksi beras ini, tentu tidak semua dikonsumsi warga Subang. Sebagian besar 60% dibawa keluar Subang. Surplusnya, kalau gabah sekitar 500.000 ton, kalau beras 250.000 ton yang dibawa ke luar Subang. "Dari 540.960 ton, bisa kita hitung produktivitas padi per hektare nya 6,3 ton. Rata-rata, produksi padi di Subang 6,3 ton per hektare," kata Djadja.

Kabupaten Subang memiliki tiga wilayah lahan strategis. Mulai dari Selatan daerah pegunungan, dataran tengah dan pantura yang dekat dengan pesisir pantai. Untuk yang di pantura, lebih luas sawahnya, sehingga penghasilannya padi atau berasnya paling tinggi, bisa sampai 8-9 ton, di tengah bisa sampai 7-8 ton, sedangkan di selatan pegunungan 5-6 ton. Jika dirata-ratakan 6,3 ton per hektare.

Dinas Pertanian berkeinginan meningkatkan produksi. Namun beberapa kendala masih menghambat produksi pertanian. "Salah satunya jaringan irigasi, yang harus sudah direhab. Entah itu endapannya terlalu tinggi, sehingga salurannya harus dikeruk. Permasalahan di pintu air banyak yang rusak. Secara bertahap kita mengajukan perbaikaan kepada instansi yang berwenang di Provinsi Jabar," ujar Djadja.

Untuk peningkatan produksi lainnya, misalnya memperbaiki kesuburan tanah. Dinas Pertanian mendorong petani untuk menggunakan pupuk organik. Meskipun sulit, kita akan lakukan secara bertahap. Alhamdulillah ada yang mau menggunakan pupuk organik," kata Djadja.

Untuk percepatan tanam, Dinas Pertanian mendapat bantuan traktor roda 4 sebanyak dua unit dan roda dua sebanyak 10 unit dari Kementerian Pertanian pada tahun 2020. "Kita sudah bagikan kepada beberapa kelompok tani, bantuan atau stimulus kepada petani dalam rangka pengolahan tanah," kata Djadja.

Pada musim pandemi Covid-19 pangan harus tetap tersedia, sehingga Pemerintah Pusat memberikan bantuan berupa benih padi inbrida. Tahun 2020, bantuan benih padi inbrida 250 ton untuk 10.000 hektare. Kemudian bantuan benih padi kaya gizi, khusus diberikan untuk daerah yang ada kasus stunting. "Kita menerima untuk delapan kelompok di delapan desa enam kecamatan, dengan luasnya 200 hektare," ungkapnya.

Selain itu, Dinas Pertanian juga menerima bantuan benih untuk padi lahan kering, untuk tujuh kelompok di 14 kecamatan dan luasnya 150 hektare. Kemudian bantuan untuk bencana alam, seperti misalnya kemarin terjadi banjir. Ada bantuan untuk sawah yang puso karena banjir, untuk 1.075 hektare. Kemudian ada juga bantuan untuk mengatasi hama tikus, yang seringkali menyebabkan terjadinya puso. Bantuannya untuk sawah seluas 387 hektare. "Itu beberapa bantuan yang kita terima sebagai stimulus dari Kementerian Pertanian," kata Djadja.

Bukan hanya itu, Djadja menambahkan, ada juga bantuan pasca panen. Jika tadi ada bantuan traktor, benih padi itu untuk sebelum panen. Nah, setelah panen ada juga bantuan. Seperti Mesin Combine alat untuk panen sebanyak 1 unit. Kemudian bantuan Power Thresher seluruhnya 22 unit. Power Thresher Multiguna bisa digunakan untuk tanaman padi dan jagung.(Diskominfo/subang.go.id). []

Berita terkait



Sumber : Tagar.id

LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Adbox
loading...