loading...

Kamis, 02 Juli 2020

profil dirut inalum orias petrus moedak | Makassar Info Berita Terbaru


Jakarta - Direktur Utama (Dirut) PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum, Orias Petrus Moedak menjadi perbincangan khalayak usai diusir keluar oleh anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Demokrat Muhammad Nasir dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP), Selasa, 30 Juni 2020.

Orias diminta keluar dari ruangan lantaran menurut Nasir, yang bersangkutan dianggap tidak kooperatif saat menjawab pertanyaan anggota dewan terkait utang bertenor 30 tahun untuk membeli saham PT Freeport Indonesia.

"Bapak bagus keluar, enggak ada gunanya di sini. Anda bukan buat main-main di DPR. Anda bukan buat main-main di sini. Anda itu enggak lengkap bahannya. Enak betul Anda di sini. Siapa yang naruh Anda di sini?" ujar Nasir kepada Orias dengan nada tinggi, Selasa, 30 Juni 2020.

Baca juga: Dirut Inalum Diusir Demokrat dari Rapat DPR

Orias Petrus Moedak ditunjuk menjadi Direktur Utama PT Inalum (Persero) pada 25 November 2019, menggantikan Budi Gunadi Sadikin yang diangkat sebagai Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pria kelahiran Kupang, NTT, 26 Agustus 1967 itu adalah profesional yang besar di sektor jasa keuangan. 

Menurut catatan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dipublikasikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), total kekayaan Orias pada tahun 2018 sebesar Rp 12,58 miliar.

Tercatat, Orias kerap wara-wiri di banyak perusahaan pelat merah. Karirnya dari satu BUMN ke BUMN lain rata-rata tak bertahan lama. Dia pun menjadi salah satu petinggi kementerian yang paling sering terkena kebijakan rotasi.

Tahun 2014-2016, Orias dipercaya sebagai Direktur Keuangan PT Pelabuhan Indonesia II atau Pelindo II. Lalu di periode 2016-2017, atau setelah pergi dari Pelindo II, Orias dipercayakan mengemban tugas sebagai Direktur Utama Pelindo III yang berkantor pusat di Surabaya, Jawa Timur.

Kemudian, Orias kembali dirotasi Kementerian BUMN dengan ditempatkan di posisi Direktur Keuangan PT Bukit Asam (Persero) Tbk periode 2017-2018.

Tak berselang lama di BUMN tambang batu bara itu, Orias dicopot dari jabatannya, untuk menempati posisi baru sebagai Wakil Presiden Direktur PT Freeport Indonesia. Di perusahaan tambang asal Amerika Serikat tersebut, dia jadi wakil Pemerintah RI setelah saham mayoritas Freeport diakuisisi Inalum.

Selanjutnya, belum genap setahun, pria asal NTT ini diangkat menjadi Dirut Inalum yang menjadi holding atau induk dari PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah Tbk (TINS), PT Antam Tbk (ANTM), dan Freeport Indonesia.

Sebelum malang-melintang di BUMN, Orias menghabiskan sebagian besar kariernya di sektor keuangan. Berawal menjadi senior auditor di Ernst & Young (EY), atau perusahaan jasa auditor yang masuk kategori Big Four di Indonesia.

Baca juga: Denny Siregar: Ngamuknya M Nasir ke Dirut Inalum 

Lalu, dia sempat berlabuh ke Bahana Sekurities sebagai Direktur Corporate Finance, dan menjabat sebagai Managing Director Danareksa Sekuritas pada 2003-2008. Orias juga pernah bekerja di Investment Banking di Singapura.

Kepulangannya ke Indonesia tak lepas dari RJ Lino yang saat itu menjabat sebagai Dirut Pelindo II. Saat itu Orias diminta Lino membenahi keuangan operator pelabuhan terbesar di Indonesia tersebut. Adapun RJ Lino tersandung kasus dugaan korupsi pengadaan quay container crane (QCC) di PT Pelindo II. 

Sebelumnya, Orias Petrus Moedak mengatakan, Inalum yang biasa disebut MIND ID (Mining Industry Indonesia), secara resmi menerbitkan obligasi global senilai total 2,5 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 37,5 triliun (kurs Rp 15.000 per dolar AS). 

Dia mengatakan keberhasilan penerbitan obligasi terbesar di antara perusahaan pertambangan di Asia ini menunjukkan kepercayaan investor global terhadap prospek jangka panjang Inalum, yang memiliki fundamental kuat dalam menghadapi situasi ekonomi global yang sulit akibat dampak pandemi Covid-19. 

"Perusahaan telah berhasil mengurangi risiko pendanaan kembali dengan memperpanjang rata-rata tenor portofolio pembiayaan dan merendahkan biaya rata-rata pendanaan, sehingga diperkirakan dapat berdampak efisiensi beban bunga," ujar Orias, Jumat, 15 Mei 2020. 

Obligasi global tersebut terdiri dari tiga periode jatuh tempo yaitu senilai 1 miliar dolar AS dengan tingkat kupon sebesar 4,750 persen dan tenor hingga 2025. 

Kemudian, 1 miliar dolar AS dengan tingkat kupon sebesar 5,450 persen dan tenor hingga 2030 dan senilai 500 juta dolar AS dengan tingkat kupon sebesar 5,80 persen dan tenor hingga 2050. 

Pendanaan yang diterima MIND ID dari obligasi tersebut, kata Orias, akan digunakan antara lain untuk pembelian kembali sebagian dari total obligasi senilai 4 miliar dolar AS yang pernah diterbitkan perusahaan pada tahun 2018. 

Orias Petrus Moedak melanjutkan, masing-masing 1 miliar dolar dengan tingkat kupon sebesar 5,230 persen dan tenor hingga 2021, dan 1,25 miliar dolar AS dengan tingkat kupon sebesar 5,710 persen dan tenor hingga 2023. Obligasi yang dipasarkan di Singapura, Hong Kong, London, dan New York ini dinilai menjadi salah satu indikasi kepercayaan dunia internasional terhadap MIND ID atau PT Inalum. []

Berita terkait



Sumber : Tagar.id

LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Adbox
loading...