loading...

Minggu, 05 Juli 2020

lenguh berat sapi pemakan sampah dan racun di yogyakarta | Makassar Info Berita Terbaru


Yogyakarta, CNN Indonesia --

Lenguh berat sesekali terdengar di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), akhir pekan. Lenguh itu berasal dari sapi-sapi yang sengaja dilepas para pemiliknya di sana untuk memakan sampah agar bisa tetap hidup.

Sapi-sapi itu berbaur dengan para pemulung yang sedang mengais sampah. Mereka tak sungkan memakan sampah di samping alat berat penggaruk dan truk-truk pengangkut sampah yang sedang beroperasi.

Kondisi sapi-sapi tersebut memprihatinkan. Meski tak kelihatan kurus, mata mereka sayu. Langkahnya pun terlihat lesu.

Sebagian tampak kepayahan mencari air minum yang cukup sulit didapat di area itu. Apalagi saat musim kemarau. Kalaupun ada air untuk diminum, sudah bisa dipastikan telah tercemar limbah sampah.

Beberapa sapi terlihat mendengus di depan genangan air. Seperti tahu bahaya air yang ada di depannya. Toh, sapi-sapi itu tetap meminumnya.

Ketua Sekretariat Komunitas Pemulung "Mardiko" TPST Piyungan, Maryono mengatakan, di area seluas 12.5 hektar ini ada sekitar 1.100 ekor sapi milik 85 orang yang sebagian warga sekitar. Selain itu, ada juga 200-an kambing yang setiap hari dilepasliarkan untuk memakan sampah.

"Ada yang setiap sore dibawa pulang oleh pemiliknya, tapi ada juga yang dibiarkan berada di sini setiap hari," jelas Maryono saat ditemui di TPST Piyungan.

Bahkan, kata dia, mayoritas sapi di sana dibiarkan bertahun-tahun hingga pembelinya datang untuk mengangkut. "Ada yang sampai 1-4 tahun," ungkapnya.

Untuk melepasliarkan hewan ternak di TPST Piyungan memang tak dikenai biaya, tapi sapi-sapi itu tak jarang ada yang mati mendadak. Sebab, sampah yang dikunyah ternyata tercampur racun.

Sejumlah pemulung mencari barang bekas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), kawasan Air Dingin, Padang, Sumatera Barat, Senin (14/1/2019). Sampah yang masuk ke TPA Air Dingin mencapai 500 ton per hari dan dipredikisi empat sampai lima tahun ke depan kapasitas TPA itu tak mampu lagi menampung sampah. ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi/focIlustrasi. (ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi)

Ada juga sapi meregang nyawa karena tertimbun sampah yang baru saja diturunkan dari bak truk. Sapi yang lain tewas terlindas alat berat penggaruk sampah.

Di tempat itu pula sebagian sapi beranak pinak. Yang tak segera mendapatkan pertolongan usai melahirnya, hampir dipastikan nyawanya tak tertolong. Termasuk anak-anaknya.

"Dalam seminggu terakhir ini, hampir setiap hari ada satu ekor sapi yang mati," sesal Maryono.

Jika sudah begitu, pihaknya akan mengumumkan kepada warga melalui pengeras suara untuk mengetahui siapa pemiliknya.

"Kami sudah ada perjanjian kalau terjadi sesuatu dengan hewan ternak mereka di sini, maka mereka tidak akan menuntut," ucapnya.

Mengganggu Aktivitas Penggaruk Sampah

Petugas UPT PTST Piyungan, Ibnu Zulkarnanto menuturkan keberadaan hewan ternak yang jumlahnya ribuan tersebut cukup mengganggu aktivitas di area tersebut.

Sapi-sapi itu kerap mendekati truk-truk yang menurunkan sampah sehingga bisa tertimbun. Namun, pihaknya mengaku tak dapat berbuat banyak lantaran bisa memicu konflik antara pengelola dengan warga.

Hal senada diungkapkan Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan (DPKP) Kabupaten Bantul, Joko Waluyo saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com.

Menurutnya, sulit menertibkan keberadaan hewan ternak di sana, karena para pemiliknya juga cenderung tertutup.

"Terus terang kami kesulitan mengetahui siapa saja yang punya sapi-sapi itu," dalih Joko.

Pihaknya telah meminta sekretariat Komunitas Pemulung, Mardiko, untuk melakukan pendataan siapa saja pemilik sapi dan kambing di sana.

Selain itu, Joko juga telah mengimbau agar para peternak membawa sapi-sapi mereka ke Pusat Kesehatan Hewan (Puskewan) terdekat, jika mendapati hewan ternaknya sakit.

Picu Kanker pada Manusia

Dosen di Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, Slamet Raharjo, menjelaskan pentingnya menjaga asupan pakan pada hewan seperti sapi yang produk daging dan susunya dikonsumsi manusia

Kandungan nutrisi dalam pakan hewan itu akan mempengaruhi kesehatan dan kualitas produknya.

"Sapi potong normalnya dipelihara secara khusus, dengan asupan pakan yang khusus pula," papar Slamet, Minggu (5/7).

Memang, memiliki kemampuan mencerna serat kasar menjadi sumber energi. Tetali kemampuan sapi menyerap zat-zat nutrisi dalam pakan ternyata juga diikuti terserapnya zat-zat ikutan dalam pakan, termasuk zat toxic atau beracun bagi tubuh.

Timbunan sampah di TPST Piyungan itu, kata dia, merupakan sampah sisa rumah tangga, restoran, bahkan sampah industri yang belum dipilah antara sampah organik dan an-organik.

Sejumlah petugas memotong dan mengemas daging sapi kurban usai dipotong di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Dharma Jaya, Penggilingan, Jakarta Timur, Senin, 12 September 2016. Total sapi yang terkumpul dari 5 wilayah DKi Jakarta 75 sapi dan akan dibagikan kepada mustahik yang tersebar di DKI Jakarta. CNN Indonesia/Safir MakkiIlustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Tercampurnya berbagai macam sampah itulah yang berpotensi membawa zat toxic, terutama logam berat seperti timbal (Pb), karbon (C), dan raksa (Hg),

"Logam berat ini mencemari sampah organik yang dimakan sapi. Dalam usus, logam berat ikut terserap usus, diikat oleh darah dan beredar ke seluruh tubuh, seperti jaringan lemak, daging, hati, ginjal dan tulang," ujar Wakil Direktur Bidang Pendidikan RSH Prof. Soeparwi FKH UGM ini.

"Logam berat yang sifatnya beracun itu kemudian juga 'ditimbun' dalam hati atau liver," imbuhnya. 

Meski banyak residu zat toxic, tetapi sapi tetap tampak sehat karena berat tubuh yang besar, yakni 300-500 kg, dan gemuk. Namun itu tak menjamin kesehatan daging sapi tersebut.

Slamet menyebut sapi pemakan sampah memiliki residu zat toxic dalam tubuhnya. Dengan demikian, produk daging dari sapi tersebut bisa sangat berbahaya untuk dikonsumsi manusia yang rata-rata berat badannya 50-70 kg.

"Zat-zat toxic yang masuk ke tubuh manusia akan berefek sebagai karsinogen yang menjadi trigger atau pemicu tumbuhnya tumor dan kanker," tegasnya.

Slamet pun tak menampik ada beberapa zat kimia yang bisa dinetralisir. Pada kasus sapi-sapi pemakan sampah, proses netralisir biasanya dilakukan dengan mengkarantina sapi-sapi tersebut selama 2-3 bulan dan memberinya rumput selama karantina.

Namun Slamet mengingatkan bahwa tak semua zat kimia bisa dinetralisir sapi. Jenis logam berat tak bisa, karena terakumulasi di hati, lemak dan daging sapi.

(tri/wis)

[Gambas:Video CNN]



Sumber : CNNindonesia.com

LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Adbox
loading...