loading...

Kamis, 09 Juli 2020

jelang new normal kasus positif virus cor ... | Makassar Info Berita Terbaru


Bisnis.com, JAKARTA – Kebijakan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menjelang adaptasi kenormalan baru, bisa menjadi hal yang paling kritikal. Sebab, masyarakat sudah harus beraktivitas di luar rumah, di saat  penyebaran Covid-19 belum melemah.

Hal ini terlihat dari semakin banyaknya penambahan kasus positif Covid-19 yang pada Kamis ini, (9/7/2020), penambahan kasus positif tembus 2.657 orang sehingga secara keseluruhan total kasus positif mencapai 70.736 orang.

Walaupun Pemerintah dan juga segenap stakeholder terus menggabungkan protokol kesehatan dengan disiplin, antara lain, dengan menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Sayangnya, protokol kesehatan yang seharusnya dilakukan tersebut kadang diabaikan ketika PSBB diperlonggar.

Hal itu ditandai  dengan terlihatnya kerumunan orang di sejumlah tempat, seperti di pasar, kendaraan umum, hingga layanan umum, dimana beberapa orang memilih tidak menggunakan masker. Mungkin saja, diantara orang tersebut, sudah terinfeksi tetapi orang tanpa gejala (OTG).

Dokter Spesialis Patologi Klinik RS Persahabatan Budhi Antariksa mengatakan, yang paling penting dalam kondisi saat ini adalah menaati protokol kesehatan. Sebab, virus akan menular dan keluar dari orang lain untuk berpindah ke orang lain lagi karena sifatnya yang hidup dari sel makhluk hidup lainnya.

"Saat PSBB diperlonggar, angka kepositifan virus meningkat. Yang tadinya sudah sempat menurun, lalu naik lagi. Ini sudah kejadian di Jakarta.   Hal itu menjadi pertanda  kalau virus berpindah ke orang lain, maka virus itu bermutasi dan bertambah banyak. Secara nyata, begitu PSBB diperlonggar, jumlah malah naik. Artinya, virus memang bermutasi makin banyak," tuturnya, dalam webinar, Kamis (9/7/2020).

Menurutnya, dalam kondisi saat ini, hal yang tak kalah penting dilakukan adalah meningkatkan daya tahan tubuh. Hal tersebut memiliki kaitan yang erat dengan asupan dan makanan-makanan yang bergizi, serta pola istirahat. Jika pola tidur dan istirahat kurang, maka daya tahan tubuh juga akan menurun.

"Suplemen seperti imunomodulator dan multivitamin  masih tetap diperlukan karena kita masih belum tahu virusnya ini akan sampai kapan. Apalagi hingga kini belum ada vaksin untuk virus tersebut," ujarnya.

Dijelaskan olehnya bahwa tidak semua virus bisa dibuatkan vaksinnya. Misalnya saja untuk HIV dan hepatitis C yang hingga kini tidak ada vaksin. "Ada beberapa virus memang tidak ada vaksinnya. Dan kebetulan, corona itu masuk virus RNA, jadi belum tentu dia bisa dibentuk vaksinnya. Semoga sih bisa. Namun, sampai sekarang belum ada buktinya," tuturnya.

Sementara itu, Inggrid Tania, Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) mengatakan pada era new normal, masyarakat sudah mulai beraktivitas, meskipun masih dibatasi sehingga dibutuhkan daya tahan tubuh yang kuat.

Di samping itu, masyarakat harus menjaga asupan nutrisi yang lengkap dan bergizi seimbang. Kemudian, istirahat cukup, cairan cukup, dan diikuti olahraga, kemudian hindari stress. Namun, dengan kondisi aktivitas yang padat di era new normal, dibutuhkan ekstra peningkatan daya tahan tubuh. Sebab, tubuh memang memerlukan tambahan suplemen dari luar. Salah satunya suplemen imunomodulator.

Konten Premium Masuk / Daftar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.


Sumber : Bisnis.com

LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Adbox
loading...