loading...

Minggu, 12 Juli 2020

Gegara PPDB, Pelajar Yatim Piatu Peraih Ratusan Penghargaan Putus Sekolah | Makassar Info Berita Terbaru


Terkini.id, Jakarta – Nasib pilu dialami seorang pelajar yatim piatu yang telah meraih ratusan penghargaan, Aristawidya Maheswari (15). Pasalnya, ia terpaksa putus sekolah lantaran tidak lolos sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Jakarta 2020.

Putri dari pasangan Triyo Nuryamin dan Armeisita Nugraha Riska itu berstatus yatim piatu sejak usia dua tahun. Orang tuanya telah meninggal pada kurun 2010 dan 2012.

Menurut pengakuannya, Aristawidya tak lolos PPDB karen nilainya tak terlalu tinggi, namun juga tidak terlalu rendah.

Ia pun mengaku telah mencoba mendaftar di delapan sekolah, namun tak juga diterima.

"Agak sedih juga, tapi karena memang tidak masuk karena nilai. Nilai aku tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah juga. Udah coba ke delapan sekolah, tapi tidak dapat juga," kata Arista seperti dikutip dari Antara, Minggu, 12 Juli 2020.

Diketahui, batas waktu penerimaan sekolah negeri melalui jalur terakhir berupa "bangku sisa" yang dialokasikan dari peserta PPDB yang tidak mendaftar ulang serta siswa tidak naik kelas telah berakhir pada 8 Juli lalu.

Kendati faktor usia tidak lagi dipertimbangkan dalam jalur PPDB, namun Aristawidya kalah bersaing dalam perolehan pembobotan nilai.

Alumnus SMPN 92 Jakarta peraih lebih dari 700 penghargaan seni lukis tingkat daerah dan nasional itu hanya mengumpulkan total nilai 7.762,4 berdasarkan akumulasi nilai rata-rata rapor 81,71 dikalikan nilai akreditasi 9,5 poin.

"Pada jalur terakhir ini aku mencoba di SMAN 12, 21, 36, 61, 53, 59, 45, dan 102. Tapi, rata-rata yang diterima nilainya 8.000-an," ujar Aristawidya.

Lantaran hal itu, ia pun memutuskan tak melanjutkan pendidikan sekolah di tahun ini.

Untuk mengisi waktu luangnya, Aristawidya memilih fokus mengajar lukis di sejumlah Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Jakarta Timur.

"Rasanya sedih juga, tapi senangnya, aku bisa meluangkan waktu untuk melukis, mengajar, dan lebih banyak waktu berbagi di RPTRA," ujarnya.

Selain banyak berbagi ilmu melukis kepada anak jalanan, ia juga memiliki murid dari kalangan anak-anak perumahan di sekitar RPTRA.

"Kalau di RPTRA itu sifatnya sosial, tidak ada biaya, kecuali yang privat panggilan ke rumah di dekat RPTRA, ada untuk uang jajan saya," kata remaja yanh mengidolakan pelukis Basuki Abdullah ini.

Sementara terkait pilihan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah swasta, Aristawidya mengungkapkan bahwa dirinya terkendala dengan biaya.

"Kakek dan nenek saya pensiunan. Saya biasanya dapat uang dari hasil jualan lukisan. Pernah dibeli oleh pejabat negara dua lukisan laku Rp10 juta," ujarnya.



Sumber : Terkini.id

LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Adbox
loading...