loading...

Kamis, 09 Juli 2020

ekspor minyak sawit ke china merosot 21 persen | Makassar Info Berita Terbaru


Jakarta - Ekspor minyak kelapa sawit dan olahannya ke China merosot hingga 21 persen dibandingkan negara-negara tujuan lainnya. Secara keseluruhan, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat pada Mei 2020 mengalami penurunan sebesar 8,3 persen menjadi 2,4 juta ton dibandingkan bulan April 2020.

Penurunan ekspor ke Tiongkok disebabkan meningkatnya pabrik oilseed crushing, khususnya untuk kedelai yang cukup besar sehingga pasokan minyak nabati China masih tinggi.

Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono mengatakan penurunan ekspor tersebut terjadi pada CPO turun sebesar 15 persen atai 96.000 ton menjadi 515.000 ton dan olahan CPO turun 8,6 persen atau 139.000 ton menjadi 1,46 juta ton. Sementara ekspor PKO dan olahan PKO tumbuh 10 persen atau 13.000 ton menjadi 142.000 ton dan oleokimia naik tipis 0,3 persen atau 1.000 ton menjadi 312.000 ton.

"Penurunan ekspor terutama terjadi pada refined palm oil yang secara umum disebabkan oleh selisih harga minyak sawit dengan minyak kedelai yang kecil," kata Mukti dalam keterangannya di Jakarta, Kamis seperti dikutip dari Antara.

Baca Juga: Ekspor Sawit RI Tak Berdaya Lawan Virus Corona

Penurunan ekspor CPO pada Mei terbesar terjadi dengan tujuan China sebesar 21 persen atau 87.700 ton. Setelah itu berturut-turut, Uni Eropa sebesar 16,62 persen atau 81.500 ton, Pakistan turun 23,4 persen atau 47.000 ton dan ke India sebesar 9,2 persen atau 38.600 ton.

"Penurunan ekspor ke Tiongkok disebabkan meningkatnya pabrik oilseed crushing, khususnya untuk kedelai yang cukup besar sehingga pasokan minyak nabati China masih tinggi," tutur Mukti.

Kendati terjadi penurunan ekspor, Mukti menyebutkan, ada beberapa negara tujuan ekspor yang menunjukkan kenaikan seperti Mesir yang naik 81 persen atau 42.000 ton dari ekspor April 2020. Selanjutnya ekspor dari Ukraina meningkat 99 persen atau 31.000 ton, Filipina naik 73 persen atau 29.000 ton, Jepang sebesar 35 persen atau 19.000 ton dan ke Oman sebesar 85 persen atau 15.000 ton.

Ada pun untuk harga CPO masih menunjukkan penurunan dari rata-rata US$ 564 pada April menjadi US$ 526 per ton-Cif Rotterdam pada Mei. Demikian juga dengan nilai ekspornya turun US$ 165 juta menjadi US$ 1,47 miliar. Mukti menjelaskan permintaan minyak nabati dunia diperkirakan mulai naik, seiring dengan kegiatan perekonomian China, India dan sejumlah negara lain yang mulai pulih.

Simak Pula: Menko Airlangga : Uni Eropa Diskriminatif Soal Sawit

"Kegiatan ekonomi Indonesia juga sudah mulai pulih sehingga kedepan permintaan minyak kelapa sawit untuk pangan juga akan naik mengikuti permintaan oleokimia dan biodiesel," kata Mukti. []

Berita terkait



Sumber : Tagar.id

LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Adbox
loading...