loading...

Jumat, 10 Juli 2020

doni disebut beri sinyal keliru soal tak masalah corona naik | Makassar Info Berita Terbaru


Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah pengamat kebijakan publik menilai Doni Monardo memberikan sinyal yang salah kepada masyarakat dengan mengatakan tak masalah angka positif virus corona meningkat asalkan angka kematian pasien positif masih tergolong rendah.

Pernyataan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 itu dinilai seakan-akan menghibur masyarakat bahwa situasi penularan virus corona masih terkendali.

Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah menyatakan diksi yang digunakan Doni salah besar dan seolah menutupi ketidakmampuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dalam mengendalikan angka penularan.

Apalagi, angka penularan semakin melonjak sejak pemerintah melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) atau menerapkan new normal. Jumlah penambahan bahkan mencapai rekor baru harian pada Kamis (9/7) kemarin mencapai 2.657 kasus.

"Saya melihatnya pernyataan Pak Doni ini memberikan sinyal yang salah. Jadi dia gagal, tapi menutupinya dengan diksi. Seolah-olah menghibur diri dalam melaksanakan penanganan covid-19," ungkap Trubus kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (11/7).

Trubus menyatakan kinerja Gugus Tugas Percepatan Covid-19 perlu dievaluasi, khususnya di daerah.

Sebab, beberapa kepala daerah yang juga masuk dalam tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 tak bisa fokus menangani virus corona di wilayahnya, terutama kepala daerah yang akan mengikuti pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada Desember 2020 mendatang. Mereka dinilai akan fokus pada kampanye demi menang dalam pesta demokrasi tersebut.

"Harusnya buat lembaga sendiri saja khususnya di daerah. Kepala daerah yang Desember 2020 mengikuti pemilihan lagi jadi tidak fokus," klaim Trubus.

Ia mengatakan pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 juga harus tegas dalam menangani pandemi dan bisa memberlakukan PSBB kembali jika angka penularan terus meningkat.

"Liat daerahnya, kalau tinggi harus lockdown ketat. RT RW juga harus bertanggungjawab. Misalnya di DKI Jakarta, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI harus ketat melakukan ini," terang Trubus.

Senada, Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio mengatakan pernyataan Doni, sebagai orang nomor satu yang menangani virus corona di Indonesia, akan memberikan perspektif berbeda untuk masyarakat awam.

Agus mengatakan hal tersebut akan membuat masyarakat awam berpikir bahwa kondisi saat ini masih benar-benar aman, dan kemudian akan semakin tak patuh dalam menjalankan protokol kesehatan.

"Harusnya Pak Doni tidak bicara seperti itu, tapi yang membuat sejuk. Kalau seperti ini malah membuat masyarakat semakin banyak yang berkumpul, angka penularan menuju ratusan ribu tak masalah, jadi orang tidak pakai masker," jelas Agus.

Agus menilai angka penularan tercatat semakin tinggi karena pemerintah kini melakukan tes spesimen terkait virus corona mencapai 10 ribu per hari. Hal ini sesuai dengan standar yang diberlakukan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

"Angka penularan memang tinggi karena tes sudah di atas 10 ribu per hari. Sebelumnya masih di bawah 5 ribu per hari. Tes semakin ya angka penularan semakin tinggi," tutur Agus.

Namun, seharusnya Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 juga memberikan informasi atau pernyataan yang tak menimbulkan perspektif berbahaya di masyarakat. Agus bilang pemerintah seharusnya membuat masyarakat tetap berhati-hati dan menjalankan protokol kesehatan yang ketat.

"Pernyataan Pak Doni (bisa) membuat orang tidak pakai masker. Orang awam kan begitu. Cuek kalau tidak ada hukuman. Apalagi seperti ini pernyataannya," tegas Agus.

Sebelumnya, kemarin Doni mengatakan mengatakan peningkatan kasus positif virus corona tidak menjadi masalah. Doni menyebut angka kematian pasien positif di Indonesia masih tergolong rendah.

"Ya semakin banyak kasus ditemukan, sebenarnya gak masalah, tapi angka kematiannya itu rendah ya," kata Doni.

Doni menyebut virus ini bisa menulari siapa saja. Menurutnya, selama pasien positif virus corona yang meninggal lebih rendah maka tak ada yang perlu dipermasalahkan.

"Yang penting tidak boleh ada yang meninggal, angka sakit harus kita monitor kita cek, kalo bed occupancy ratio di rumah sakit mengalami peningkatan, nah kita harus khawatir," kata Doni.

(aud/vws)

[Gambas:Video CNN]



Sumber : CNNindonesia.com

LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Adbox
loading...