loading...

Selasa, 07 Juli 2020

detiknews selasa, 07 jul 2020 18:19 wib gadis 12 tahun dinikahi pria 44 tahun, suami diminta tak larang istri bermain jangan karena dia sudah jadi istri, suaminya bisa melarang anak ini berkumpul dengan anak seumurannya, ujar aktivis perempuan di sulsel husaimah husain. | Makassar Info Berita Terbaru


Makassar -

Aktivis perempuan di Sulawesi Selatan (Sulsel), Husaimah Husain ikut menyoroti pernikahan terpaut usia 32 tahun antara pria asal Makassar, B (44) dengan seorang gadis usia 12 tahun di Kabupaten Pinrang. Husaimah meminta suami gadis tersebut tidak melarang istrinya bermain bersama teman-temannya.

Husaimah menegaskan, gadis 12 tahun di Pinrang tersebut tetap harus mendapatkan haknya sebagai seorang anak meski telah menjadi seorang istri. Hak tersebut di antaranya hak pengawasan orang tua dan hak bermain dengan teman seusianya.

"Termasuk haknya untuk bermain dengan teman sebayanya, jangan karena dia sudah jadi istri, suaminya bisa melarang anak ini berkumpul dengan anak seumurannya," ujar wanita yang akrab disapa Ema ini, Selasa (7/7/2020).

Hak lain yang harus tetap dipatkan gadis 12 tahun tersebut ialah hak mendapatkan pendidikan formal di sekolah. Namun, menurut orangtua gadis tersebut, anaknya sudah tidak melanjutkan sekolahnya sejak di bangku kelas 5 SD.

"Karena pernikahan melibatkan anak bawah umur ini telah terjadi, yang bisa kita serukan adalah anak ini harus tetap mendapatkan hak-haknya sebagai anak," imbuhnya.

Presidium Nasional Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) ini juga berharap gadis 12 tahun itu menunda kehamilannya, karena secara fisik tubuh dan organ reproduksinya belum siap untuk mengandung dan melahirkan. Hal ini juga untuk mencegah risiko kematian ibu melahirkan.

"Anak ini baik secara fisik maupun psikis belum siap untuk berumahtangga, jadi orangtuanya tetap berkewajiban melakukan pengawasan, untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan atau timbulnya masalah kesehatan pada anak ini, jadi sebisa mungkin ditunda kehamilan sampai usianya cukup dewasa untuk melahirkan," tutur Ema.

Ema berharap kasus pernikahan dini atau melibatkan anak bawah umur tidak terulang lagi di Sulsel, maupun di daerah lainnya. Pencegahan terjadinya pernikahan dini, lanjut Ema, tergantung pada kepedulian masyarakat dan pengawasan pemerintah, khususnya pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) daerah setempat, untuk memberi edukasi pada masyarakat bahwa pernikahan dini lebih banyak mudaratnya dibandingkan manfaatnya.

"Pencegahan pernikahan usia dini di Sulsel terus terjadi, sebelumnya juga terjadi di beberapa daerah seperti Bulukumba dan Bantaeng, untuk mencegah ini terjadi, edukasi harus terus dilakukan pada para orang tua agar mereka paham lebih banyak buruknya dari pada kebaikan jika menikahkan anaknya yang masih belum dewasa," pungkasnya.

(nvl/nvl)

Sumber : detikNews

LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Adbox
loading...