loading...

Senin, 29 Juni 2020

kas sempat minus, pertamina andalkan pembayaran utang negara | Makassar Info Berita Terbaru


Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pertamina (Persero) mengaku mengandalkan pembayaran utang pemerintah untuk membantu arus kas operasional. Pasalnya, arus kas operasi perseroan tertekan di tengah pandemi virus corona (covid-19). Bahkan, arus kas perusahaan pelat merah ini sempat minus.

"Di poin inilah kami sangat terbantu dengan pencairan piutang pemerintah karena ini sangat membantu ketika arus kas dari operasi ini di Maret dan April kami sangat suffered (tertekan)," ujar Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, Senin (29/6).

Namun, ia tidak membeberkan besaran minus kas operasi yang dialami perseroan akibat Covid-19. Ia hanya menjelaskan perusahaan pelat merah itu mengalami tekanan arus kas operasi lantaran terjadi tiga guncangan (triple shocks).

Pertama, lanjutnya, penjualan Pertamina anjlok signifikan sebesar 25 persen secara rata-rata nasional per Minggu (28/6). Bahkan, permintaan BBM di beberapa kota besar yang memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jatuh hingga 50 persen.

"Untuk daerah-daerah atau kota besar yang mengalami PSBB ini mencapai hampir 50 persen. Jadi untuk DKI Jakarta, kemudian Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan ini menurunnya luar biasa," ujarnya.

Kedua, arus kas operasi perseroan mendapat guncangan dari fluktuasi nilai tukar rupiah. Ia mengatakan perseroan  telah membuat skenario berat dan sangat berat berkaitan dengan pengaruh nilai tukar rupiah terhadap pendapatan perseroan.

Dalam skenario berat, nilai tukar rupiah diasumsikan Rp17.500 per dolar AS yang diperkirakan menekan pendapatan perseroan hingga 45 persen. Sedangkan, skenario sangat berat yaitu rupiah di posisi Rp20 ribu dan pendapatan perseroan diramal turun hingga 55 persen.

Terakhir, arus kas perseroan dipengaruhi fluktuasi harga minyak dunia. Seperti diketahui, harga minyak mentah global sangat fluktuatif akibat anjloknya permintaan di tengah covid-19. Namun, harga minyak mentah global berangsur membaik setelah OPEC+ memangkas produksinya.

"Mudah-mudahan segera juga pencairannya dilakukan. Ini akan sangat membantu bagi kami," imbuhnya.

Di sisi lain, perseroan membutuhkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar US$6,2 juta. Nicke mengaku jumlah tersebut sudah dipangkas 23 persen dari sebelumnya.

Sayangnya, Pertamina tak bisa lagi memangkas capex tersebut lantaran masih harus membiayai proyek Strategis Nasional (PSN) yang tetap harus dijalankan.

"Sebagian besar ini (capex) adalah untuk proyek strategis nasional yaitu pembangunan kilang,"ujarnya.

Ia menambahkan Pertamina masih harus merogoh kocek untuk membiayai operasional sumur-sumur perseroan. Sebab, Pertamina tidak bisa menutup sumur-sumur utamanya sumur-sumur tua meskipun permintaan anjlok.

"Sekali kemudian sumur ini dinonaktifkan, agak sulit dan mahal lagi untuk nanti kami aktivasi kembali. Oleh karena itu, kami tetap harus berinvestasi untuk me-maintenance level of production (mengawasi produksi)," ucapnya.

[Gambas:Video CNN]

Tercatat, total utang pemerintah kepada perseroan hingga 2019 sebesar Rp96,50 triliun. Utang tersebut merupakan utang kompensasi atas selisih Harga Jual Eceran (HJE) sejak 2017 silam. Rinciannya, utang kompensasi atas selisih HJE pada 2017 sebesar Rp20,78 triliun. Pada 2018, jumlah utang kompensasi selisih HJE naik menjadi Rp44,85 triliun. Kemudian, sebesar Rp30,86 triliun di 2019 lalu.

Pemerintah berencana membayarkan utang kompensasi atas HJE tersebut sebesar Rp45 triliun pada 2020. Jumlah tersebut untuk memenuhi utang kompensasi pada 2017 sebesar Rp20,78 triliun dan sebagian utang kompensasi 2018 senilai Rp24,21 triliun.

(ulf/sfr)

Sumber : CNNindonesia.com

LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Adbox
loading...