loading...

Jumat, 22 Mei 2020

Ojek Online dan Berkah Ketupat Lebaran di Yogyakarta | Makassar Info Berita Terbaru


Yogyakarta - Seorang driver ojek online (ojol) bernama Rohmadi, 27 tahun, mendadak kebanjiran order kulit ketupat jelang hari raya Idul Fitri 1441 H. Ketupat sebagai makanan wajib hari raya umat muslim ini memang banyak diburu mendekati Lebaran.

Warga asal Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini memanfaatkan usaha musiman yang sudah digeluti sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di sela-sela kesibukannya mencari penumpang, Rohmadi meluangkan waktu merangkai daun kelapa menjadi kulit ketupat. Dia punya keahlian dan keterampilan layaknya seni origami di Jepang.

Keterampilannya merangkai kulit ketupat menjadi berkah. Apalagi saat pandemi wabah virus Corona atau Covid-19 yang masih menghantui masyarakat, pekerjaan utamanya sebagai ojol juga mengalami dampak yang paling terasa. 

"Sementara saya fokus di usaha musiman ini, lumayan untuk tambahan jajan hari raya. Lah Ngojol juga lagi sepi, tapi kalau sudah selesai momen usaha musimannya baru on bid lagi," kata Rahmadi kepada Tagar, Jumat, 22 Mei 2020.

Namun saat pandemi seperti saat ini, sejumlah pedagang musiman ini nampaknya tak seramai tahun sebelumnya. Sehingga pedagang yang masih bertahan malah kebanjiran pembeli.

Rohmadi mengaku mendapat banyak permintaan pembeli, sementara para penjual usaha musiman tersebut cenderung tak ada. Yang terjadi adalah harga kulit ketupat melambung mencapai Rp 25 ribu perikat (isi 10) yang biasanya dijual Rp 10-15 ribu perikat. Tak hanya itu, janur kelapa atau bahan kulit ketupat juga sulit dicari.

Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, permintaan pembeli kulit ketupat meningkat sangat drastis. Rohmadi mengaku sampai kewalahan menerima pesanan. "Alhamdulillah sudah banyak yang pesan sampai pusing saya gak kehitung berapa. Kalau di bandingkan tahun sebelumnya lebih banyak pemesanan sekarang karena penjualnya kan sedikit permintaanya banyak," ucapnya.

Sementara saya fokus di usaha musiman ini, lumayan untuk tambahan jajan hari raya.

Rohmadi biasa mangkal jual kulit ketupat di jalan Kauman, Kota Yogyakarta bersama pedagang lainnya. Hingga sore ini, Rohmadi masih sibuk membuat pesanan kulit ketupat.

Banyaknya permintaan, mengharuskan para pembeli harus pesan terlebih dahulu. "Sekarang sistemnya pesan dulu baru bisa diambil. Karena banyak sekali yang belum bisa dibuatkan. Ini sisa 80 ikat isinya 10, semakin sore semakin banyak pesanan," ujarnya.

Seno, 56 tahun, pedagang kulit ketupat di lokasi sekitar juga merasakan hal yang sama, kebanjiran permintaan dari pembeli. Berdasarkan tahun sebelumnya, para penjual usaha musiman ini bisa mencapai ratusan orang. Namun berbeda dengan saat ini hanya segelintir pedagang yang masih bertahan.

"Naik harganya Rp 25 ribu perikat, nanti malam bisa mencapai Rp 30 ribu. Karena penjual kulit ketupatnya gak ada tapi peminatnya masih seperti yang dulu," kata Seno.

Alasan mengapa Seno tetap berjualan usaha musiman ini karena dia melihat peluang usaha. Sebab, sudah 3 bulan terakhir ini dia tidak memiliki uang. "Karena usaha ini musiman cuman satu dua hari, sudah bertahun-tahun juga jualan ini kalau pas musimnya. Tapi selama ada Corona saya juga ndak kerja. Saya kuli tukang batu tapi sudah 3 bulan tidak ada pekerjaan," katanya. []

Baca Juga:

Baca Cerita:

Berita terkait



Sumber : Tagar.id

LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Adbox
loading...