loading...

Jumat, 22 Mei 2020

Hari Kartini: Kita Semua untuk Perempuan | Makassar Info Berita Terbaru


KETIKA KEDUDUKAN perempuan masih terus diperbincangkan karena dianggap tak berdaya, tak patut muncul di depan khalayak umum dengan ide-ide yang ada di kepalanya, maka disaat itulah tidak semua perempuan akan setuju dan pasrah dengan kedudukan yang diberikan kepadanya. Mengapa? karena sebagai perempuan, tentu kami akan beranggapan bahwa kami juga layak untuk berpikir, layak tampil, dan juga layak untuk dihormati.

Karena jika saja perempuan dinilai hanyalah sebagai makhluk yang harus tinggal di rumah dan melayani laki laki saja, sebagaimana hasil konreferensi Prancis pada tahun 586 Masehi. Dalam konferensi tersebut mempertanyakan eksistensi  perempuan apakah memiliki roh atau tidak? apakah roh itu manusia atau hewan? apakah perempuan bisa dianggap manusia atau tidak? Akhirnya, konferensi itu membuahkan kesimpulan yang menyatakan bahwa perempuan itu adalah seorang perempuan, akan tetapi ia diciptakan untuk melayani kaum lelaki saja. Tentu ini sudah menjadi tamparan besar akan betapa rendah dan hinanya perempuan itu.

Padahal seandainya saja kita ingin menoleh pada lembaran sejarah, dan mencoba menelitik kemajuan dunia, tentulah deretan nama perempuan akan selalu kita temukan. Bukankah kesuksesan seorang John Stuart Mill (1806-1873 M), yang merupakan seorang filsuf berkelahiran Inggris sekaligus sebagai ahli teoretik pemikiran utilitarian. Namun siapa sangka, pemikiran-pemikiran beliau rupanya banyak dipengaruhi oleh sang istri yang merupakan penulis sekaligus filsuf wanita yang berpengaruh di bidang feminisme, yakni Harriet Taylor Mill (1807-1858 M).

Sayangnya, sekalipun sudah banyak bukti-bukti tentang kebisaan perempuan dalam unjuk kelebihan dan kemampuan yang dimilikinya. Entah mengapa pandangan terhadap perempuan masih saja dianggap remeh, bahkan nenek moyang kita pun pernah menganggap perihal perempuan tidak layak berpendidikan. Sekalipun anak-anak perempuan ngotot untuk bersekolah, paling tidak usai tamat dari sekolah dasar, mereka sudah harus dipingit orang tua dan mempersiapkan diri untuk menikah di usia yang masih belia.

Sampai pada akhirnya ketika keadaan ini masuk dalam kehidupan Raden Ajeng Kartini dan para perempuan sezamannya. Barulah kedudukan perempuan mulai terpikirkan, mulai dicarikan jalan tentang bagaimana pun seorang perempuan juga layak untuk mengenyam pendidikan.

Bahkan ketika Kartini tetap memilih untuk menjadi perempuan yang patuh terhadap tradisi, yang mana seorang perempuan haruslah tinggal di dalam rumah, rupanya hal ini tidak menyurutkan semangat Kartini dalam proses belajar. Mengapa? Karena dengan di rumah Kartini memilih untuk menghabiskan waktu dengan banyak membaca, bahkan menuliskan ide-idenya di dalam secarik kertas, dan mengirimkan teman-temannya yang satu diantaranya ialah Stella yang merupakan seorang penulis dan militan pergerakan feminis di negeri Belanda saat itu.

Berangkat dari membaca dan memperhatikan keadaan pada saat itu yang mana kedudukan perempuan sangatlah terkungkung dalam rumah, maka Kartini tidak hanya menuliskan terkait pendidikan yang penting bagi perempuan, namun juga menuliskan tentang posisi perempuan yang begitu tidak dihargai. Dalam tulisannya Kartini mengatakan:

"Bisakah kau bayangkan derita seorang istri yang melihat suaminya pulang membawa perempuan lain yang kemudian harus diakuinya sebagai istri sah suaminya? Sebagai saingannya? Jika demikian suami itu bisa membunuh Istrinya …"

Sehingga dari tulisan di atas, tentu sangatlah menggambarkan tentang betapa memprihatinkannya perempuan zaman dahulu yang jika mana harus dimadu, kemudian para suami menentukan istri-istri utama mereka, sehingga istri yang lain haruslah bertahan pada posisinya yang mungkin seringkali terabaikan.

Dan hal ini persis dengan kisah ibu dari Kartini yang merupakan istri pertama dari RMAA Sosroningrat. Namun sayangnya yang pertama tidak selamanya menjadi yang utama, sebab istri utama dari ayahnya ialah RAA Woerdjan yang merupakan putri dari seorang bangsawan.

Untuknya, betapa bersyukurnya kita akan kehadiran Kartini dan perempuan hebat lainnya yang pada masa itu tiada waktu berkeluh kesah terhadap pemandangan perempuan yang amat begitu memprihatinkan, hingga membuatnya berfikir untuk membangun sekolah untuk anak perempuan. Dan dampaknya ialah membuat kita para perempuan sekarang yang selain bebas memilih dalam dunia pendidikan pun juga sudah mendapatkan penghormatan dikalangan masyarakat.

Dan sekarang, bisa kebayang jika saja perempuan dari dulu sampai sekarang masih terkungkung dalam rumah? Entah bagaimana jadinya terlebih di tengah situasi yang sedang tidak stabil saat ini dikarenakan pandemi covid-19 yang senantiasa menyebarluas. Bukankah para ahli medis yang kini disebut sebut sebagai Garda terdepan adalah kebanyakan dari pihak perempuan? Dan ini lagi-lagi bisa dikatakan bahwa perempuan sangat besar pengaruhnya dalam menyelamatkan dunia saat ini dari covid-19.

Dan berbicara terkait sosok perempuan yang hadir sebagai ahli medis, rupanya hal ini sudah dibuktikan dari dulu sebagaimana hadirnya pengorbanan seorang Florence (1820-1910 M). Dia merupakan seorang perawat yang hatinya amat begitu tulus dalam mengumpulkan korban  perang pada perang Krimea (1853-1856) yakni perang antara Rusia melawan sekutu yang terdiri dari Prancis, Britania Raya, Kerajaan Sardinia, dan Kesultanan Ustmaniyah.

Padahal waktu itu, profesi sebagai seorang perawat tidaklah begitu dihargai. Namun kenyataannya? Florence menaruh seluruh hidupnya pada profesi yang kian mulia itu, bahkan atas ketulusannya Florence malah memilih untuk tidak menikah dikarenakan takut jika saja pernikahan membuat dirinya tak lagi mampu untuk turun tangan dalam merawat orang orang sakit, padahal  dalam sejarah hidupnya dia pernah dilamar oleh seorang penyair yang terkenal.

Untuknya, alasan apalagi yang menguatkan bahwasanya sosok perempuan hanyalah sosok yang tak mampu berbuat apa apa, terlebih jika dinilai sebagai makhluk yang hidupnya hanya bergantung dan tak mampu berpikir dengan baik?

Jika dari dulu kehadiran perang sempat menjatuhkan ribuan pasukan yang  terluka hingga membuatnya berbisik kepada para perawat perempuan "sembuhkan aku", kemudian para anak anak berteriak "ibu suapi aku", dan berlanjut kepada para orang tua yang memohon kepada anak perempuannya dengan permohonan "rawatlah aku hingga maut menjemput" dan pada akhirnya para suami memegang tangan Istrinya dan berkata "bahagiakan aku".

Tentu ini sudah menjadi bukti bahwa perempuan adalah makhluk yang begitu berperan penting dalam kehidupan ini. Untuknya, terimakasih untukmu duhai perempuan perempuan hebat yang dulunya telah berjuang demi membela kedudukan perempuan, dan terimakasih pula untukmu duhai ibunda Kartini, karena denganmu kami berani bermimpi.

Penulis: Nonna (Rosmawati), Mahasiswi UIN Alauddin Makassar, Jurusan Ilmu Al Qur'an dan Tafsir.



Sumber : Aksaratimes.id

LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Adbox
loading...