loading...

Jumat, 22 Mei 2020

Benarkah Membantu Orang Beda Agama Tidak Dapat Pahala | Makassar Info Berita Terbaru


Oleh: Syafiq Hasyim*

Ketika solidaritas dan upaya tolong-menolong sesama anak bangsa sedang tumbuh di era pandemi Covid-19 sekarang ini, masih ada saja pihak yang berpikiran sempit. Katanya, solidaritas dan tolong-menolong itu hanya berpahala apabila diberikan oleh dan kepada sesama muslim. Sumbangan sebanyak apa pun yang diberikan oleh non-muslim kepada muslim, menurut mereka tidak ada efek dan manfaatnya sedikit pun. Bantuan harus dilakukan sesama agama. Orang yang berpikir demikian ini terasa amat ganjil dan aneh di era Covid-19 ini.

Dalam situasi di mana solidaritas sosial harus dipupuk sesama anak bangsa, tolong-menolong harus ditingkatkan sesama anak manusia, namun masih ada saja yang ingin menumbuhkan sentimen berdasarkan agama.

Saya ingin mengulas bagaimana sesungguhnya Islam mengajarkan makna penting solidaritas, persaudaraan dan kasih sayang antarsesama manusia.

Islam adalah agama yang luas dan penuh kasih sayang. Dalam "bismillahi rahmani rahim" yang kita baca setiap hari misalnya, di sana ada istilah Al-Rahman di mana Tuhan adalah Maha Penyayang di dunia dan di akhirat. Dalam Al-Rahman, kasih sayang itu bersifat universal, solidaritas itu tidak pandang pilih, dan menolong itu bukan berdasarkan agama tertentu.

Prinsip itulah yang seharusnya kita ikuti dalam Covid-19. Menolong dan mencurahkan solidaritas sosial kita tanpa melihat agama yang kita tolong. Inilah cerminan sempurna dari sifat Al-Rahman.

Ketika Rasulullah masih hidup, beliau juga membantu orang yang berbeda keyakinan dan agama dengan beliau. Rasulullah dalam kisah hidupnya pernah menolong orang non-muslim, serta dimintai tolong oleh orang non-muslim.

Rasulullah pernah menyuapi perempuan Yahudi yang buta sebagai contoh. Rasulullah juga pernah minta tolong diobati oleh seorang dokter Yahudi. Rasulullah juga pernah minta tolong bantuan perang kepada Yahudi Bani Nadlir.

Pahala itu bukan urusan manusia, tapi urusan Allah SWT.

Solidaritas ManusiaIlustrasi - Solidaritas sesama manusia. (Foto: Pixabay/Bob_Dmyt)

Riwayat-riwayat tersebut, menolong dan minta tolong kepada orang yang berbeda agama dan kayakinan seharusnya menjadi inspirasi bagi kehidupan umat Islam sehari-hari.

Kita seharusnya meneladani dan mengikuti kisah Rasulullah. Kita kehilangan dari hati kita propaganda-propaganda yang mendorong munculnya sektarianisme, seperti kita percaya pada teori konspirasi dan lain sebagainya.

Bagaimana dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia? Apakah konsep tersebut bisa diterapkan? Islam mengenal konsep ukhuwah (persaudaraan). Konsep persaudaraan di dalam Islam itu terdiri dari tiga bagian.

Pertama, persaudaraan sesama umat Islam atau ikhuwah islamiyah, artinya antarumat Islam dianjurkan untuk saling membantu satu sama lain. Jika ada umat Islam yang kesulitan, umat Islam lain harus datang untuk meringankan kesulitan tersebut.

Kedua, persaudaraan antarsesama warga negara atau dalam bahasa Arab disebut dengan ukhuwah wataniyyah. Sesama warga negara dalam konsep ini adalah bersaudara. Persaudaraan jenis ini diikat adanya negara bangsa. Kesulitan yang dihadapi satu warga negara bangsa merupakan kesulitan yang juga dihadapi warga negara bangsa yang lain.

Kini seluruh warga negara bangsa sedang mengalami kesulitan, karenanya mari kita saling membantu dan meningkatkan solidaritas dan kasih sayang sesama warga negara bangsa.

Ketiga, persaudaraan antarsesama umat manusia (ukhuwah basyariyyah). Persaudaraan jenis ini merupakan persaudaraan yang memiliki dimensi yang lebih luas. Misalnya warga negara China membantu warga negara Italia, warga negara Indonesia dibantu oleh warga negara Australia dan lain sebagainya.

Solidaritas dan bantuan ini tidak diikat oleh batas agama dan negara. Asal sesama manusia, di situlah kasih sayang, solidaritas dan saling tolong-menolong harus tumbuh.

Rasulullah pernah menyuapi perempuan Yahudi yang buta sebagai contoh. Rasulullah juga pernah minta tolong diobati oleh seorang dokter Yahudi.

Solidaritas ManusiaIlustrasi - Dokter menolong pasien tidak melihat agamanya apa. (Foto: Pixabay/sasint)

Kita disatukan oleh keadaan kita sebagai sesama manusia, Keadaan di mana seluruh manusia sedang berjuang menghadapi Covid-19.

Jadi bagi kita umat Islam, terlalu banyak konsep keagamaan tentang betapa pentingnya solidaritas bersama, membantu sesama, dan kasih sayang antarsesama. Namun, tetap saja masih ada sebagian orang yang berpikiran pendek, mereka tetap kekeuh menonjolkan rasa dan sentimen keagamaan dan ras tertentu dalam era yang sangat sulit ini.

Bahkan ada yang mengatakan, "Apa sih pahalanya bagi orang non-muslim yang menyumbang muslim? Mereka sama sekali tidak akan mendapat pahala," kata mereka. Bahkan ada yang lebih sadis mengatakan bahwa virus corona ini hanya menyerang mereka yang beragama non-Islam. Padahal kenyataannya virus ini menginfeksi seluruh pemeluk agama di dunia ini tanpa terkecuali.

Apa obat bagi orang yang masih berpikiran seperti itu? Saya berpikiran mereka tidak ada obatnya, kecuali mereka berobat pada diri mereka sendiri.

Soal apakah bantuan kita kepada non-muslim atau bantuan non-muslim kepada kita umat Islam akan mendapat pahala atau tidak, kita sesungguhnya tidak perlu menanyakan persoalan itu. Karena mereka non-muslim yang membantu kita tidak juga memikirkan masalah pahala apa yang mereka dapatkan. Bagi mereka, menolong, solidaritas, dan kasih sayang yang diberikan itu didasarkan pada aspek kemanusiaan.

Yang kedua, soal pahala itu bukan urusan manusia, tapi urusan Allah SWT.

Sebagai catatan, saya ingin mengatakan bahwa dalam keadaan yang sulit, mari kita dengarkan orang yang mengerti. Kita dengarkan dokter, saintis, dan juga kita dengarkan pihak yang berwenang.

Pepatah Arab mengatakan bersabarlah dengan penyakitmu jika engkau menjauhi dokter, dan terimalah kebodohanmu jika engkau menjauhi guru.

Dengan mendengarkan para ahli tersebut, kita berharap tidak kehilangan solidaritas antarsesama, tidak kehilangan kasih sayang antarsesama, tidak kehilangan rasa saling bantu-membantu antarsesama.

*Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Wakil Ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU), MA dari Leiden University, Belanda. Ph.D dari Freie University, Jerman.

Baca juga:

Berita terkait



Sumber : Tagar.id

LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Adbox
loading...