loading...

Sabtu, 23 Mei 2020

Bagaimana Nabi Muhammad SAW Merayakan Idul Fitri | Makassar Info Berita Terbaru


Jakarta - Hari raya Idul Fitri momen penting bagi umat Islam yang biasanya dirayakan dengan meriah. Idul Fitri adalah hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan lamanya diuji menahan lapar, dahaga dan hawa nafsu.

Dalam sebuah riwayat dari Imam Bukhori, pada hari raya Idul Fitri Nabi Muhammad SAW masuk ke rumah Aisyah r.a. Di sana ada dua orang hamba sahaya yang sedang menyanyikan lagu gembira. Nabi pun berbaring sambil mendengarkan keduanya bernyanyi.

Tidak lama, Abu Bakar masuk dan melihat itu dan kemudian memarahi Aisyah karena membiarkan dua orang budak itu bernyanyi di hadapan Nabi, yang dalam pandangannya itu adalah hal yang tidak sopan. Akan tetapi, Nabi meminta Abu Bakar agar membiarkan keduanya bernyanyi dan bersukacita di hari raya.

Dari kisah tersebut, Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa hari raya adalah hari yang harusnya disikapi dengan gembira dan sukacita dan tidak boleh ada yang bersedih. Itulah sebabnya umat muslim diwajibkan membayar zakat fitrah agar jangan sampai di hari raya masih ada orang yang minta-minta ataupun bersedih.

Idul Fitri di Indonesia

Umat Islam di Indonesia mengenal tradisi-tradisi yang khas dilakukan pada saat hari raya Idul Fitri. Seperti saling berkunjung ke rumah tetangga atau sanak famili.

Agaknya, kegiatan tersebut sesuai dengan apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW pada hari raya, yaitu selalu membedakan rute jalan pergi dan pulang ketika berjalan menuju tempat salat Id. 

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan hikmah dari apa yang dikerjakan Rasulullah tersebut agar beliau bisa mengunjungi lebih banyak orang, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat (ziarah kubur).

Selain itu, pada perayaan hari raya, umat muslim Indonesia biasanya saling mengucapkan selamat Lebaran serta saling bermaaf-maafan. Mereka umumnya mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum (semoga Allah menerima (puasa dan amal) dari kami dan (puasa dan amal) dari kalian).

Sebenarnya Nabi Muhammad SAW tidak mengajarkan secara khusus apa yang harus diucapkan. Akan tetapi, selama ucapan dan doa yang baik maka sah-sah saja. 

Taqabbalallahu minna wa minkum ini adalah kata-kata yang biasa diucapkan oleh para sahabat Nabi ketika saling bertemu di hari raya. Sebagaimana riwayat yang dinukil oleh Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitab Fathul Bari berikut:

Dari Jubair bin Nufair ia berkata: Para sahabat Nabi Muhammad SAW jika mereka bertemu satu sama lain di hari raya Idul Fitri mereka saling mengucapkan Taqabbalallahu minna wa minkum.

Selain itu, masih banyak tradisi lain yang biasa dilakukan di hari raya dari mulai takbir keliling, bagi-bagi parcel, bermaaf-maafan, halal bi halal dan lain sebagainya. 

Delapan Cara Nabi Muhammad SAW Merayakan Idul Fitri

Nabi Muhammad SAW, Rasul Allah, juga turut merayakan hari Idul Fitri sesuai sunah nabi di hari raya Idul Fitri. 

1. Bertakbir

Ketika malam maghrib menuju 1 Syawal, perbanyaklah takbir guna mendapatkan manfaat takbir hingga Salat Ied sampai akan dimulai. Hal ini dijelaskan seperti ayat berikut,

وَلِتُكْمِلُواالْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوااللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: "Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasa serta bertakbir (membesarkan) nama Allah atas petunjuk yang telah diberikan-Nya kepadamu, semoga dengan demikian kamu menjadi umat yang bersyukur." (QS. Al Baqarah : 185)

2. Segera membayarkan zakat bagi yang belum

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang hukumnya wajib dilaksanakan. Banyak sekali kegunaan zakat bagi orang-orang yang membutuhkan. Kewajiban membayar zakat adalah sebagai berikut,

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمَرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ اَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى

Artinya: "Rasulullah SWT memerintahkan zakat fitrah kepada orang-orang di bulan Ramadan kepada manusia satu sha' dari tamar (dua setengah kilo beras) atas orang-orang yang merdeka atau hamba laki-laki atau perempuan" (Al Hadits)

3. Membersihkan diri dan menggunakan wewangian

Ketika hendak pergi ke masjid guna melaksanakan salat Ied, maka sudah seharusnya bepergian dalam keadaan bersih dan siap. Hal yang disunahkan ketika merayakan Idul Fitri adalah dengan membersihkan diri (mandi), memakai wewangian, hingga mengenakan pakaian yang baik. Sebuah hadis telah menyebutkan:

اَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى الْعِيْدَيْنِ اَنْ نَلْبَسَ اَجْوَدَ مَا نَجِدُ وَاَنْ نَتَطَيَّبَ بِاَجْوَدِ مَانَجِدُ وَاَنْ نُضَحِّيَ بِاَثْمَنِ مَا نَجِدُ (رواه الحاكم

Artinya: "Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk mengenakan yang terbaik dari apa yang kita temukan dan memakai wewangian dan mengurbankan hal yang paling berharga yang kita temukan." (Diriwayatkan oleh al-Hakim)

4. Makan terlebih dahulu

Makan dulu sebelum salat merupakan sunah pada saat hari raya Idul Fitri. Dalam sebuah hadis menjelaskan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَايَغْدُوْ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْ كُلُ ثَمَرَاتٍ وَيَأُكلُهُنَّ وِتْرًا

Artinya: "Pada waktu Idul Fitri, Rasulullah SAW tidak berangkat ke tempat salat sampai ia memakan semua buah dengan jumlah ganjil." (HR. Ahmad dan HR. Bukhari).

5. Mengambil jalan yang berbeda

Mengambil jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang salat Ied memiliki makna yang dalam di mana Rasulullah SAW ingin bertemu lebih banyak dengan orang-orang di sekitar perjalanan guna menyebarkan syiar Islam. 

6. Salat Ied

Tentu saja pada hari raya Idul Fitri yang bertepatan pada tanggal 1 Syawal, umat muslim melaksanakan keutamaan salat Idul Fitri secara berjamaah di masjid atau tanah yang lapang. Seluruh kalangan baik laki-laki maupun perempuan yang suci maupun sedang haid untuk keluar dan merayakan Idul Fitri. Hal ini dijelaskan dalam hadis berikut,

أُمِرْنَا أَنْ نَخْرُجَ فَنُخْرِجَ الحُيَّضَ، وَالعَوَاتِقَ، وَذَوَاتِ الخُدُورِ فَأَمَّا الحُيَّضُ؛ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ، وَدَعْوَتَهُمْ وَيَعْتَزِلْنَ مُصَلَّاهُم

Artinya: "Kami memerintahkan untuk keluar (ketika hari raya), dan mengajak keluar wanita haid, para gadis, dan wanita pingitan. Adapun para wanita haid, mereka menyaksikan kegiatan kaum muslimin dan khotbah mereka, dan menjauhi tempat salat." (HR. Bukhari 981, Muslim 890).

7. Ucapan Hari Raya

Ucapan hari raya tentu salah satu momen yang tidak mungkin dilupakan oleh seluruh umat muslim. Ada baiknya mengucapkan

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

Artinya: "Taqabbalallahu minna wa minkum (semoga Allah menerima amal kami dan kalian)."

8. Bersilaturahim

Menjaga silaturahim merupakan keharusan bagi umat muslim. Umat muslim tidak dapat hidup sendiri melainkan saling membantu. Berkumpul dengan sanak saudara dan tetangga akan menjalin hubungan yang semakin baik. []

Baca juga:

Berita terkait



Sumber : Tagar.id

LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Adbox
loading...