Andi Dimas Maulana (15), satu dari diantara sejumlah tukang pijat di masjid Al Markaz Al Islami. Sudah empat hari, sejak awal Ramadan 1440 Hijriah pada 6 Mei lalu, Dimas sudah tabung ratusan ribu rupiah dari hasil pijat. ⠀⠀ "Alhamdullah sudah hampir Rp 200 ribu lebih," kata Dimas, disela-sela memijat jamaah di masjid Al Markaz, Kamis (9/4/2019) siang. Masjid Al Markaz Al Islami Jend. M Jusuf, berada diantara Jl Sunu dan Jl Masjid Raya Kecamatan Bontoala, Kota Makassar. ⠀ Dimas, remaja asal Jl Kandea lorong 3 ini, sudah empat tahun bekerja sebagai tukang pijat jika sudah masuk bulan Ramadan. ⠀ "Sudah empat tahun pijat, itu kalau waktu bulan puasa. Lumayan untuk beli pakaian lebaran, bantu orang tua juga," ujar Dimas. ⠀ Sehari, Dimas bisa mendapatkan 60 ribu sampai 70 ribu, bahkan pernah dapat 120 ribu. Atau paling lumayan baginya 40 ribu. ⠀ "Lumayan itu kalau dapat Rp 40 ribu, artinya masih ada orang yang mau dipijat. Mereka yang saya pijat juga bayar seikhlasnya," lanjutnya. Mereka yang dipijat, rata-rata membayar 20 ribu, 15 ribu, bahkan 15 ribu. Tapi menurut Dimas tergantung keiklasannya orang itu. ⠀ "Ya tergantung orangnya, saya pijat iklas dan pasti butuh makan. Makanya kalau itu saya dikasih iklas juga," tambahnya. (*) Laporan Wartawan Tribun Timur, Darul Amri Lobubun Download with nice filename



Andi Dimas Maulana (15), satu dari diantara sejumlah tukang pijat di masjid Al Markaz Al Islami.

Sudah empat hari, sejak awal Ramadan 1440 Hijriah pada 6 Mei lalu, Dimas sudah tabung ratusan ribu rupiah dari hasil pijat.

⠀⠀

"Alhamdullah sudah hampir Rp 200 ribu lebih," kata Dimas, disela-sela memijat jamaah di masjid Al Markaz, Kamis (9/4/2019) siang.

Masjid Al Markaz Al Islami Jend. M Jusuf, berada diantara Jl Sunu dan Jl Masjid Raya Kecamatan Bontoala, Kota Makassar.

Dimas, remaja asal Jl Kandea lorong 3 ini, sudah empat tahun bekerja sebagai tukang pijat jika sudah masuk bulan Ramadan.

"Sudah empat tahun pijat, itu kalau waktu bulan puasa. Lumayan untuk beli pakaian lebaran, bantu orang tua juga," ujar Dimas.

Sehari, Dimas bisa mendapatkan 60 ribu sampai 70 ribu, bahkan pernah dapat 120 ribu. Atau paling lumayan baginya 40 ribu.

"Lumayan itu kalau dapat Rp 40 ribu, artinya masih ada orang yang mau dipijat. Mereka yang saya pijat juga bayar seikhlasnya," lanjutnya.

Mereka yang dipijat, rata-rata membayar 20 ribu, 15 ribu, bahkan 15 ribu. Tapi menurut Dimas tergantung keiklasannya orang itu.

"Ya tergantung orangnya, saya pijat iklas dan pasti butuh makan. Makanya kalau itu saya dikasih iklas juga," tambahnya. (*)

Laporan Wartawan Tribun Timur, Darul Amri Lobubun

Download with nice filename



Sumber : instagram : sosmedmakassar

LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar